Tampilkan postingan dengan label kredit rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kredit rumah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2010

Tips Memilih Rumah Minimalis



Setelah melihat beragam model rumah minimalis, barangkali Anda bertanya. Apakah harus memilih rumah yang atapnya beton atau genteng? Atau pilih yang jendela kacanya besar-besar dan beragam pertanyaan lain.

Menurut Bambang Eryudhawan, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DKI Jakarta, model minimalis yang baik adalah yang sesuai dengan iklim tropis. Gaya minimalis perumahan murah tapi tetap punya atap. Selain itu dalam memilih jangan hanya terpikat pada keindahan fasadnya .

Yang terpenting dicermati adalah lay-out ruangnya: apakah sesuai dengan iklim Indonesia atau tidak. “Secantik-cantiknya fasad rumah, kalau layout-nya tidak cocok dengan kebutuhan, jangan dipaksakan,” katanya.

Yang ideal ruang-ruangnya fungsional, hubungan antar-ruang terkoordinasi dengan baik, udara bisa mengalir lancar ke dalam rumah, begitu pula sinar matahari pagi. Jadi, keberadaan bukaan dan ventilasi udara penting pada rumah minimalis (perumahan murah).

Selain itu kalau hujan rumah tidak tampias atau bocor, pada musim kemarau rumah tidak panas. Pastikan juga dinding rumah tidak banyak terkena sinar matahari langsung. Pasalnya, menurut Imelda Akmal, Principal Imelda Akmal Architecture Writer, dinding tembok menyerap panas pada siang hari, dan dilepas pada malam hari. Karena itu rumah yang temboknya banyak terkena sinar matahari langsung, terasa panas pada siang dan malam hari.

Tips Majalah Estate

Rabu, 18 November 2009

Konsumen Andalkan KPR Untuk Beli Rumah



Sebanyak 70 persen konsumen masih mengandalkan pembiayaan via Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk membeli rumah. Hanya sebagian kecil konsumen yang membeli rumah dengan cash keras.

Berdasarkan survei Bank Indonesia yang dirilis, Jumat (13/2/2009), Rumah KPR tetap menjadi fasilitas yang digunakan oleh sebagian besar konsumen mencapai 70,6% dengan tingkat suku bunga 14%. Diikuti oleh pembayaran melalui cash bertahap sebanyak 20,6% dan cash keras sebanyak 8,3%.

Untuk pembiayaan properti residensial pada triwulan IV-2008 sebagian besar masih bersumber dari dana internal perusahaan (52,8%), dana perbankan (29,6%) dan nasabah (13,7%).

Sementara Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan di 14 kota di Indonesia menunjukkan bahwa indeks harga properti residensial (rumah kpr) pada triwulan IV-2008 mencapai 157,07 atau berarti meningkat secara triwulanan atau tahunan. Kenaikan harga ini terutama masih disebabkan oleh kenaikan harga bangunan dan kenaikan upah pekerja.

Dilihat berdasarkan tipe rumah kpr, kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah kpr dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tipe rumah menengah. Sementara berdasarkan wilayah, Bandar Lampung merupakan wilayah yang mengalami peningkatan harga rumah kpr tertinggi mencapai 1,94% terutama pada rumah tipe kecil.

Untuk harga rumah kpr di wilayah Jabodetabek dan Banten mengalami kenaikan yang lebih tinggi seiring masih adanya permintaan masyarakat terhadap properti residensial yang didorong oleh kemudahan pembayaran yang diberikan oleh pengembang kepada konsumen berupa cicilan pembayaran tanpa bunga selama 12-24 bulan. Setelah masa cicilan habis, sisa pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan KPR.

Pada triwulan I-2009, indeks harga properti residensial (rumah kpr) baik secara triwulanan maupun tahunan diperkirakan masih kan meningkat, namun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kota Bandar Lampung diperkirakan masih akan mengalami kenaikan harga tertinggi secara triwulanan dan tahunan. Kenaikan rumah kpr yang melambat ini diperkirakan juga terjadi pada wilayah Jabodetabek dan Banten.

kilasberita.com